Minggu, 27 Januari 2013

REMBULAN DALAM KEPALA IBU (JUARA I LOMBA MENULIS PUISI 2013)


Pemenang I Lomba Menulis Puisi 'Jejak-jejak Sides Sudyarto DS' dengan tema: Perempuan dan Kehidupannya yang diselenggarakan Grup Sastra Lampu diasuh oleh Ibu Naning Pranoto, 26 Januari 2013. 

Rembulan dalam Kepala Ibu

rembulan menghuni kepala ibu ribuan tahun
pada malam yang diselimuti nyanyian
dedaunan, kelelawar berebut hunian di reranting
namun, ibu mengikatku dengan temali di bawah pohon
rambutan, bagai buaian tak terlepaskan

singgahan di pohon rambutan, mengusap cermin
dan menari-nari, hikayat malam disuarakan
aku tertidur di pangkuan, namun ibu belum berkesudahan
memanggil kenangan, pada lelaki batang berparas karang,
pada tahun kesepian yang ganjil, pada rupa dan dupa,
pada musim hasrat duka

kini aku cium lekat di dada ibu
masih harum luka, aku rasakan di hati ibu 
menahan air mata jatuh, sungguh ibu menahan keluh
serasa sampai pada patahan kenangan
dan ibu membuka temali melingkar di tubuhku

hingga pagi hari tak lagi pucat pasi, dan ibu
serasa melihat wajahku sebagai buah yang ranum
yang telah dipungut bersama dedaunan
sungguh, ibu menujum tahun baru serupa keabadian
dan segalanya mungkin serupa cahaya rembulan

(Probolinggo, 2012) 

Jumat, 25 Januari 2013

PEREMPUAN PERANTAUAN (TERBIT DI LOMBOK POST, 13-1-2013)


Perempuan Perantauan


Hujan di tengah gesekan-gesekan tubuh orang-orang busway merah, pedagang kaki lima di terminal yang bertahan di genangan air setinggi satu meter hampir mendekati lapaknya, ibu tua dan anak kecil digendongan memainkan alat musik seadanya di lampu merah. Suasana yang biasa di kota. Mereka menjadi nafas-nafas kota yang setia.
Dan aku masih meratapi langit malam. Bersandar di tiang listrik sambil meremukkan tetanah, melempari sesalku, menepuk-meremuk lagi tanah. Airmata limbah. Ingin kubunuh diri saja dan mati di tengah-tengah tumpukan orang-orang pulang sehabis dari kerja. Mereka pasti membawaku pulang ke rumah. Ke desaku yang ibu bilang seperti jannah. Sementara tetangga-tetanggaku tak tahu kalau aku mati karena gendang kewanitaanku pecah.
Aku baru menjadi perantau sehabis hari raya. Di tengah perjalanan, lelaki bertubuh kekar, memakai sabuk hitam, membuatku hilang impian. Perempuan sepertiku menjadi tumbal, yang terkena keserakahan orang-orang kota. Dan sia-sia aku sebagai perantau yang ditunggu-tunggu ibu jika kelak pulang, impian yang mana yang sanggup aku wujudkan?
Aku ingat. Aku tahu wajah lelaki itu. Bukankah ia yang selama ini mengasuhku? Aku mengenali benar lelaki yang memecah masa depanku.
***
“Aku sendirian aja, Bu!” ujarku sembari mengemasi barang-barang.
“Jangan, Nak! Ayah akan menemanimu,” ibu membantuku di kamar.
“Gak mau, Bu!”
“Kenapa, Nak? Bukannya demi kebaikanmu juga ada yang menjaga keselamatanmu.” Tegas ibu memandangiku.
Kami sejenak diam.
“Baiklah. Aisyah mau.” Dengan terpaksa kuterima. Agar ibu suka.
Aku baru memulai ingin mewujudkan mimpi-mimpi ibuku dan keluargaku. Sebagai anak tunggal dan perempuan, aku berusaha ingin membahagiakannya. Agar aku tak hanya menjadi perempuan yang sia-sia di mata senjanya. Aku tak ingin mengecewakan di sisa hidup ibu.
Dengan selalu menemaninya, aku merasa dekat. Aku seperti sesosok anak yang ingin selalu dekat. Tak ingin meraih segala kesedihan, tapi aku ingin senyum kebahagiaan ibu merekah bagai bunga. Kebaktian dan kasih sayangku pada ibu. Meskipun aku tetap tak direstui ibu untuk merantau.
Bagi ibu, perempuan merantau adalah hal aneh paling tabu. Tidak pernah perempuan satu pun di desanya merantau ke kota, mencari penghidupan sendiri di sana. Kekhawatiran ibu adalah doa bagiku. Namun dengan kondisi ibu yang harus tidur di kasur menjalani masa tua, sementara ayah lebih senang di luar rumah. Aku berpikir ulang. Aku merantau atau membiarkan ibu telantar.
Walaupun harus menanggung beban dan tak kuasa menahan sedih, aku mesti meyakinkan ibu kalau aku akan baik-baik saja dan tak kekurangan apapun.
***
“Karena dia cantik.” Ucap lelaki busway berperut buncit.
“Benar. Lelaki mana yang tidak suka dengannya.” Ujarnya kembali.
“Lihat itu, lelaki tua di sebelahnya. Benar-benar perempuan cantik. Sungguh beruntung lelaki tua itu.” Timpal perempuan yang menggendong anak.
Mata penumpang busway merah kini tertuju kepadaku. Mereka melihatku dengan telisik dua matanya. Aku seperti terhakimi oleh mereka. Dan lelaki tambun itu semakin tajam dengan dua matanya mengarah ke tubuhku. Padahal tubuhku bukan tubuh yang terlahirkan dari kota. Ayahku, ia bersama-sama penumpang lainnya. Menjadikanku wayang di sebuah pertunjukan. Menunjukkan kalau ia sedang mengintaiku juga.
Ia merangkumnya  malam ini. Ia yang menghabiskan liar jiwanya. Ia telah merusak mimpi ibu. Ia merasa telah memenangkan perlombaan dan berteriak lantang. Pemenangnya adalah ayahku. Ayah yang mencoba menyayangiku sedari kecil. Betapa buasnya melebihi serigala-serigala dan babi hutan.
“Kau apakan perempuan itu?” tanya lelaki tambun itu.
“Aku ayahnya.”
Dan aku seperti tertindih gajah. Ayah yang melukai malamku. Aku tak sanggup melarikan diri. Berlari dari ayah sama saja mencari mati. Sebab ia benar-benar mengancam dan menegaskannya dengan dendam. Apa yang telah menjadi pikirannya?
Sampai-sampai aku dijerat dengan kalimat-kalimat luka. Ia menghukumku dengan ketegasannya akan membuangku ke kota. Agar dibelai-belai purnama dan lelaki kota. Entahlah, luka yang dilukiskannya seperti luka ibu kepadanya sebelum aku terlahir paksa di dunia. Ia yang membuat ibu menjadi cacat selamanya. Seperti tak ada sesal di lubuk hati terdalamnya. Mustahil, ia bertaubat. Aku meringkuk. Setelah ia menjadi lelaki kota dan melampiaskan simbol kejantanannya. Aku tunduk. Aku membiarkan malam ini tanpa ada yang merembulan dan membintang. Hitam.
***
Ibu mendekapku erat. Ia merasa kalah dengan cacatnya. Sebab ia telah membiarkan anak perempuan tunggalnya akan mengelana. Tak tentu arah. Tak tentu pula nanti ibu mendapat kabarku.
“Apa ibu khawatir denganku nanti?”
“Iya. Nak! Ibu selalu memohon kepada Tuhan, agar kamu terjaga oleh-Nya. Di kota itu tidak sembarang orang dapat bertahan. Apalagi perempuan sepertimu.”
“Aku akan selalu menjaga diri. Ayah akan menemaniku kan, Bu?”
“Ya. Ayahmu yang mengantarkanmu ke kota sampai kamu dapat kerja dan mendapat tempat tinggal yang layak. Agar tak seorang pun melecehkan kehormatanmu, Nak.”
“Insya Allah. Bu!”
Kami serasa tidak ingin melepas. Tangis kami menderu. Menghitung waktu dengan dekapan. Menggemakan kerinduan paling dalam. Inilah pelepasan, antara yang tak merelakan dan yang merelakan. Seperti kenangan pada pertemuan. Dan ibuku, ia selalu mengajariku kesabaran. Tidak mengeluh pada keadaan. Tidak menjadi bagian dari orang-orang yang seribu kali memberi alasan dan menjauh dari kenyataan.
Dan waktu semakin mendekat. Angin semakin merayap. Meluluhkan ketegaran ibu. Membuatku tak berdaya meresapi segala ucapan. Aku beranjak dari kamar, melewati ruang tamu, melewati bunga-bunga yang setiap hari kusiram, melewati halaman.
“Aku merantau dulu, Bu!” bisikku ke telinga ibu. 
Ia masih menatapku. Ia belum merelakanku pergi. Ia merapatkan peluknya untukku. Dua jam kami mengharu biru.
***
Perjalanan belum sampai ke tujuan. Aku mengenali lelaki kota itu. Lelaki yang buas dan telah membuatku cacat seperti ibu. Benar-benar hina. Dan itu telah terjadi padaku. Dia ayahku, yang seharusnya membuat perjalananku tenang dam nyaman. Akan tetapi ia telah menghancurkan segala yang ingin kuimpikan di kota.
Kota bagi perempuan adalah penghabisan. Kalau orang di sekitar bisa saja menjadi pembunuh masa depan. Ibu mendapat berita pagi tentang perempuan yang diperkosa ayahnya sendiri di busway merah menuju kota bakda hari raya. Ah, Ibu, itu anakmu! Kata tetangga yang sedang menonton televisi di pagi hari dalam hujan yang deras ini.
Malang, 2011



Minggu, 20 Januari 2013

1 PUISI DI BATAK POS (12/01/2013)


Jejak Cinta

karena jejak-jejak cinta adalah peradaban
yang terpahatkan paling dalam
ke hati anak-anak. aku tak lekas
pergi dari pengembaraan.
aku tak putuskan pergi
sebelum aku cerna lagi
beberapa ilmu paling membumi.

jika aku tatap pintu, ada foto
bapak dan emak, aku pastikan
merindui mereka dengan kesungguhan.
lalu malam berikutnya
aku berdoa bagi kesembuhan
dan kesunyian yang sering kurasakan.

di sisi malam aku merasa sepi
itu kembali, mengetuk rasa dan hatiku.
padahal aku lelaki sempurna
diberkahi bidadari dan peri kecil,
nyatanya hidup tak juga dimulai
dari kebahagiaan, melainkan kerinduan
yang menyala di balik sajadah keabadian.

2012

Minggu, 13 Januari 2013

BANK MANDIRI BLOG CONTEST 2013


Menjadi Indonesia Melalui Bank Mandiri

Oleh Husen Arifin

Pada era kompetisi yang makin ketat ini, keberhasilan menciptakan persepsi positif dibenak konsumen merupakan faktor penting dalam kesuksesan produk atau merek, bahkan mungkin lebih penting daripada keunggulan teknologi. Keunggulan kompetitif dalam fungsi teknis produk adalah penting, tetapi akhirnya yang menentukan produk dapat berhasil di pasar adalah konsumen. Bagaimana menciptakan nilai emosional di produk atau merek dan menimbulkan rasa kepemilikan kepada merek tersebut sehingga konsumen bersedia menyisihkan penghasilan untuk produk atau merek kita adalah kunci keberhasilan merek di pasar. Kuncinya adalah menciptakan excellent experience dengan membuat produk atau merek yang bisa dirasakan konsumen. (Rini, 2009: 15). Sementara ketatnya persaingan pasar dan perubahan-perubahan yang terjadi di pasar membuat para pemasar harus menerapkan sebuah strategi yang tepat untuk dapat bertahan dan mengikuti perubahan pasar bahkan tampil sebagai pemimpin pasar. (Adiwijaya, 2007: 66). Dan persaingan di antara merek yang beroperasi di pasar semakin meningkat, dan hanya produk yang memiliki ekuitas merek yang kuat akan tetap mampu bersaing, merebut dan menguasai pasar. (Durianto, Darmadi, Sugiarto, Sitinjak Tony dalam Mahrinasari, 2006:190).
Dan di masa perekonomian Indonesia sedang krisis. Tersebutlah kebijakan proses peleburan dari empat bank pemerintah menjadi Bank Mandiri. Di mana Bank Mandiri didirikan pada 2 Oktober 1998, sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia. Pada bulan Juli 1999, empat bank pemerintah yaitu Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia dan Bank Pembangunan Indonesia, dilebur menjadi Bank Mandiri, dimana masing-masing bank tersebut memiliki peran yang tak terpisahkan dalam pembangunan perekonomian Indonesia. Sampai dengan hari ini, Bank Mandiri meneruskan tradisi selama lebih dari 140 tahun memberikan kontribusi dalam dunia perbankan dan perekonomian Indonesia. (http://www.bankmandiri.co.id).
Dengan banyaknya jumlah bank yang menawarkan produk tabungan baru dan atribut yang akan memikat nasabah, justru Bank Mandiri memiliki strategis transformatif untuk tetap menjadi Bank pilihan masyarakat yang menyediakan pengalaman perbankan yang sangat unik dan unggul.
Dengan tagline “Terdepan, Terpercaya. Tumbuh Bersama Anda”. Bank Mandiri telah merespon terhadap keinginan konsumen atau nasabah tersebut dengan menyediakan layanan produk perbankan seperti Mandiri KTA (Kredit Tanpa Agunan), Mandiri KPR (Kredit Pemilikan Rumah), Mandiri Tabungan, Mandiri Tabungan Rencana dan Mandiri Kartu Kredit.
Dengan layanan produk perbankan yang beragam ini pula, nasabah dapat menjangkau Bank Mandiri lebih mudah. Hal ini sesuai dengan apa yang disebut Schiffman dan Kanuk dalam Abadi (2009: 21) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya atau terciptanya loyalitas merek adalah:
1.      Perceived product superiority (penerimaan keunggulan produk)
2.      Personal fortitude (keyakinan yang dimiliki oleh seseorang terhadap merek tersebut)
3.      Bonding with the product or company (keterikatan dengan produk atau perusahaan)
4.      Kepuasan yang diperoleh oleh konsumen.
Pada keempat faktor tersebut, Bank Mandiri mampu menciptakan loyalitas mereknya. Sehingga Bank Mandiri terus kompetitif di gelanggang perbankan. Di mana Bank Mandiri meningkatkan sinergi dan nilai perusahaan anak dengan menerpakan Strategi Bisnis Unit (SBU).
Sebagaimana saya kutip dari (http://www.bankmandiri.co.id/)  bahwa Bank Mandiri untuk mendukung berbagai segmen usaha kami serta membangun budaya kerja berbasis kinerja yang kuat di seluruh organisasi, Bank Mandiri menerapkan sistem organisasi berbasis Strategic Business Unit (SBU) yang terdiri dari berbagai unit bisnis yang strategis. Unit bisnis strategis ini akan bergerak sebagai generator penghasil profit pertumbuhan Bank Mandiri di masa depan, sebagai inti dari perusahaan dan juga sebagai layanan fungsi bersama. Bank Mandiri juga didukung oleh beberapa perusahaan anak untuk meningkatkan performa unit-unit bisnis strategisnya, diantaranya Corporate Banking, Commercial Business Banking, Micro & Retail Banking, Treasury & International Banking serta Consumer Finance. Bank Mandiri senantiasa mencari peluang bisnis yang saling menguntungkan guna menciptakan sinergi, membangun aliansi sekaligus memperkuat bisnis pendukungnya melalui perusahaan anak Bank Mandiri, diantaranya Mandiri Sekuritas yang bergerak di bidang investment banking, Mandiri AXA Financial Service yang bergerak di bidang asuransi, Bank Syariah Mandiri yang bergerak di bidang perbankan syariah, Bank Sinar Harapan Bali yang bergerak di bidang perbankan mikro dan Mandiri Tunas Finance yang bergerak di bidang multi-finance.

Mandiri-kan Wirausaha Muda Menjadi Indonesia  
Di tahun 2013, Bank Mandiri semakin bersinergi, melakukan transformasi yang berperan aktif meningkatkan ekonomi kerakyatan. Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri, Pahala Nugraha Mansury mengemukakan bahwa Bank Mandiri sebagai salah satu perusahaan milik negara yang terus berkomitmen untuk berperan aktif dan memajukan ekonomi dan kewirausahaan diantaranya melalui penyelenggaraan program Wirausaha Muda Mandiri dan Mandiri Young Technopreneur.  (http://www.bankmandiri.co.id/).
Antusiasme wirausaha muda mengikuti program Wirausaha Mandiri dan Mandiri Young Technopreneur dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa Bank Mandiri menjadi bank yang representatif untuk mendukung semangat kepemudaan mereka menjadi Indonesia.
Oleh karena itu, saya meyakini bahwa menjadi Indonesia melalui Bank Mandiri dengan mengaktualisasi produk perbankannya adalah sebuah transformasi yang solutif. Dan harapan ke depannya, bahwa Bank Mandiri untuk selalu berinovasi dengan excellent experience nasabah, untuk mempertahankan tradisi pertumbuhan akseleratif di dalam industri perbankan di Indonesia, bahkan mendunia. Semoga! (*)

video

Sabtu, 12 Januari 2013

PUISI DI LAMPUNG POST (13 JANUARI 2013)

Adapun puisi-puisi saya, puji syukur, dimuat di Lampung Post, hari Minggu, 13 Januari 2013. yaitu berjudul: Tanah Kepulangan, Di Lorong Tubuh, Jika Hujan Datang, Ibu, Lelaki Pematang. 
Berikut ini, dari judul: Jika Hujan Datang dan Di Lorong Tubuh


Jika Hujan Datang

kususuri jalan-jalan sepanjang desa, petani mungil menabur kegigihan rela mengangkut tubuh hampir rubuh air-air diambil dari sebidang kolam.

seperti mimpi bagi mereka menata cinta anak-anak tembakau. merayakan ulang tahun untuk ladang mereka dan aku. seperti menari-nari di jerami, kami sanggul mimpi itu dan pulang tak bawa apa-apa, hanya serpih api-api. usang meladang, tembakau telanjang. di keutuhan malam hari, merekamlah kami tentang musim-musim. jika hujan datang, mungkin kami melabuhkan tubuh kepada majikan. meskipun kami mengguyuri diri dengan sesal yang kelam.

Probolinggo, 2010  

Di Lorong Tubuh

di lorong tubuhmu aku berlari-lari

jalanan ini meruntuhkan pusara dan nestapa, di tiap tikungan tarian, kecak dan rancak kakimu seperti suasana riuh pasar tanah garam seperti tadarus mengendap dan ramai di jantungmu. ya, padahal  jutaan kata-kata terlahir sebelum penyair, ingin aku menjelma celurit seperti membaca dendam di lubuk orang hitam dan aku memasuki tubuhmu yang rimba.

karena airmatamu hijrah maka akan ada senja memilihkanku jalan tak petang di lorong tubuhmu

di lorong tubuhmu aku berlari-lari

2012  




Kamis, 03 Januari 2013

5 Puisi di Majalah Budaya Sagang edisi 171 Desember 2012

Ada 5 puisi saya yang dimuat Majalah Budaya Sagang, edisi 171 Desember 2012. yaitu: Kekasih Lelaki Cupang, Sepasang Puisi Menari, Terompet Hujan, Potongan Kakimu, Pencangkul. 
Berikut ini 2 puisi tersebut:


Terompet Hujan

apabila tanah kotamu
benar-benar menguning
rumah-rumahnya
bagai lidah api
yang menjulur ke kuali
dan memburumu

terompet hujan
harus kautiupkan
dari langit kekuningan
sayup-sayup seperti angin
dan melodi bergantian

di kotamu
dinding rumah adalah
pertahanan kelam
dari lidah api yang mendendam

2012


Potongan Kakimu

kakimu, di antaranya adalah rumah
dengan jendela purnama, sesekali
kakimu bergerak seperti matahari.
di bagian atap ada siwalan
yang berusaha menggapai dekapan
langit, karena bidadari tak lagi
turun ke rumahmu.

betapa rumah seumpama kakimu
yang kerlipnya adalah kunang-kunang.
di setiap malam dikelilingi warna kuning
yang pasi. Kakimu, seperti singgahan
para pelamun, bila hujan
seolah berjejalan mimpi di kepala.

di sini kakimu tak ada di meja makan
barangkali bapak telah mencicipi sajian
potongan kakimu yang dihidangkan ibu dengan 
senyum udang dan mata usang.

2012