Sunyi Ingin Menari
menjadi penari di pedesaan
melumuri diri dengan doa-doa
yang dipanjatkan tiap beradegan
sejatinya adalah pengukuhan
betapa tubuh sebagai magis
dan sebagai magnet
hingga sunyi menepi
ketika pentas-pentas malam
tinggal botol minuman
dan plastik berceceran
dan orang-orang pulang
meracik cerita sepenggalnya
cinta yang abadi di mata
Probolinggo, 2014
Senin, 08 September 2014
Selasa, 26 Agustus 2014
MALAM BERKERABAT
Malam Berkerabat
telah kukenal kopi
aroma wangi
bersanding puisi
mengekalkan dini hari
dan kucatat gelora hati
menelusuri dawai-dawai pagi
bersama siulan burung gereja untuk matahari
kumampu bergerak
menujumu tak usah jarak
terpikir dibenak
walau goyah engkau pikir
aku merayakan takbir
kehidupan di sela angin semilir
mungkin engkau bertanya
pada setiap mata yang engkau rasa
pada setiap tangan yang berjabat senantiasa
memberikan keindahan dan curiga
aku mencatat nasihat
yang usai mendekat cinta pun merekat
aku menemuimu di dalam syahadat
dan hari-hari laksana di ujung jari
engkau mengajakku di labirin sepi
seungguhnya aku yang berhasrat
menjaring waktu demi malam berkerabat
2014
telah kukenal kopi
aroma wangi
bersanding puisi
mengekalkan dini hari
dan kucatat gelora hati
menelusuri dawai-dawai pagi
bersama siulan burung gereja untuk matahari
kumampu bergerak
menujumu tak usah jarak
terpikir dibenak
walau goyah engkau pikir
aku merayakan takbir
kehidupan di sela angin semilir
mungkin engkau bertanya
pada setiap mata yang engkau rasa
pada setiap tangan yang berjabat senantiasa
memberikan keindahan dan curiga
aku mencatat nasihat
yang usai mendekat cinta pun merekat
aku menemuimu di dalam syahadat
dan hari-hari laksana di ujung jari
engkau mengajakku di labirin sepi
seungguhnya aku yang berhasrat
menjaring waktu demi malam berkerabat
2014
Sabtu, 23 Agustus 2014
Di Cangkuang Aku Sayang
Di Cangkuang Aku Sayang
untuk Yunita Indrianilebih cepat dari matahari
aku menggumam dalam diri
bahwa bolamatamu
selalu merayu seperti lagu
yang mendayu dan merindu
di cangkuang aku sayang
pada gelas-gelas malam
dan piring-piring putih
juga kata-kata terkadang
menjadi senyap lalu pulih
dari keheningan
sedang bolamatamu
terus menggenapiku dengan
cinta yang abadi serta
mengguncang sesekali
pada percakapan setelah
subuh dan kantuk
yang membuat tubuh rubuh
kini, aku sayang padamu
setelah atau sesudah
atau lebih tabah dari hujan
saat datang mengguyur halaman
2014
Rabu, 14 Mei 2014
Puisi: Rumah Rancaekek
Rumah Rancaekek
adalah
bunga-bunga di kepala
bersama
matahari bulat jeruk
di
sini aku merinduimu
kaumasak
daging di dapur
membantu
waktu lebih cepat
bukan
sekadar menanti sementara
aku
mungkin laki-laki tanpa karena
menahan
alasan cinta
lalu
secangkir hatimu
mengajakku
ke muara ibu
piring
bening dihancurkan hening
tiba-tiba
kucing berpaling
entah,
kalau saja aku puisi
seharusnya
aku berlari
ke
arahmu
2014
Langganan:
Postingan (Atom)