Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Januari 2013

PEREMPUAN PERANTAUAN (TERBIT DI LOMBOK POST, 13-1-2013)


Perempuan Perantauan


Hujan di tengah gesekan-gesekan tubuh orang-orang busway merah, pedagang kaki lima di terminal yang bertahan di genangan air setinggi satu meter hampir mendekati lapaknya, ibu tua dan anak kecil digendongan memainkan alat musik seadanya di lampu merah. Suasana yang biasa di kota. Mereka menjadi nafas-nafas kota yang setia.
Dan aku masih meratapi langit malam. Bersandar di tiang listrik sambil meremukkan tetanah, melempari sesalku, menepuk-meremuk lagi tanah. Airmata limbah. Ingin kubunuh diri saja dan mati di tengah-tengah tumpukan orang-orang pulang sehabis dari kerja. Mereka pasti membawaku pulang ke rumah. Ke desaku yang ibu bilang seperti jannah. Sementara tetangga-tetanggaku tak tahu kalau aku mati karena gendang kewanitaanku pecah.
Aku baru menjadi perantau sehabis hari raya. Di tengah perjalanan, lelaki bertubuh kekar, memakai sabuk hitam, membuatku hilang impian. Perempuan sepertiku menjadi tumbal, yang terkena keserakahan orang-orang kota. Dan sia-sia aku sebagai perantau yang ditunggu-tunggu ibu jika kelak pulang, impian yang mana yang sanggup aku wujudkan?
Aku ingat. Aku tahu wajah lelaki itu. Bukankah ia yang selama ini mengasuhku? Aku mengenali benar lelaki yang memecah masa depanku.
***
“Aku sendirian aja, Bu!” ujarku sembari mengemasi barang-barang.
“Jangan, Nak! Ayah akan menemanimu,” ibu membantuku di kamar.
“Gak mau, Bu!”
“Kenapa, Nak? Bukannya demi kebaikanmu juga ada yang menjaga keselamatanmu.” Tegas ibu memandangiku.
Kami sejenak diam.
“Baiklah. Aisyah mau.” Dengan terpaksa kuterima. Agar ibu suka.
Aku baru memulai ingin mewujudkan mimpi-mimpi ibuku dan keluargaku. Sebagai anak tunggal dan perempuan, aku berusaha ingin membahagiakannya. Agar aku tak hanya menjadi perempuan yang sia-sia di mata senjanya. Aku tak ingin mengecewakan di sisa hidup ibu.
Dengan selalu menemaninya, aku merasa dekat. Aku seperti sesosok anak yang ingin selalu dekat. Tak ingin meraih segala kesedihan, tapi aku ingin senyum kebahagiaan ibu merekah bagai bunga. Kebaktian dan kasih sayangku pada ibu. Meskipun aku tetap tak direstui ibu untuk merantau.
Bagi ibu, perempuan merantau adalah hal aneh paling tabu. Tidak pernah perempuan satu pun di desanya merantau ke kota, mencari penghidupan sendiri di sana. Kekhawatiran ibu adalah doa bagiku. Namun dengan kondisi ibu yang harus tidur di kasur menjalani masa tua, sementara ayah lebih senang di luar rumah. Aku berpikir ulang. Aku merantau atau membiarkan ibu telantar.
Walaupun harus menanggung beban dan tak kuasa menahan sedih, aku mesti meyakinkan ibu kalau aku akan baik-baik saja dan tak kekurangan apapun.
***
“Karena dia cantik.” Ucap lelaki busway berperut buncit.
“Benar. Lelaki mana yang tidak suka dengannya.” Ujarnya kembali.
“Lihat itu, lelaki tua di sebelahnya. Benar-benar perempuan cantik. Sungguh beruntung lelaki tua itu.” Timpal perempuan yang menggendong anak.
Mata penumpang busway merah kini tertuju kepadaku. Mereka melihatku dengan telisik dua matanya. Aku seperti terhakimi oleh mereka. Dan lelaki tambun itu semakin tajam dengan dua matanya mengarah ke tubuhku. Padahal tubuhku bukan tubuh yang terlahirkan dari kota. Ayahku, ia bersama-sama penumpang lainnya. Menjadikanku wayang di sebuah pertunjukan. Menunjukkan kalau ia sedang mengintaiku juga.
Ia merangkumnya  malam ini. Ia yang menghabiskan liar jiwanya. Ia telah merusak mimpi ibu. Ia merasa telah memenangkan perlombaan dan berteriak lantang. Pemenangnya adalah ayahku. Ayah yang mencoba menyayangiku sedari kecil. Betapa buasnya melebihi serigala-serigala dan babi hutan.
“Kau apakan perempuan itu?” tanya lelaki tambun itu.
“Aku ayahnya.”
Dan aku seperti tertindih gajah. Ayah yang melukai malamku. Aku tak sanggup melarikan diri. Berlari dari ayah sama saja mencari mati. Sebab ia benar-benar mengancam dan menegaskannya dengan dendam. Apa yang telah menjadi pikirannya?
Sampai-sampai aku dijerat dengan kalimat-kalimat luka. Ia menghukumku dengan ketegasannya akan membuangku ke kota. Agar dibelai-belai purnama dan lelaki kota. Entahlah, luka yang dilukiskannya seperti luka ibu kepadanya sebelum aku terlahir paksa di dunia. Ia yang membuat ibu menjadi cacat selamanya. Seperti tak ada sesal di lubuk hati terdalamnya. Mustahil, ia bertaubat. Aku meringkuk. Setelah ia menjadi lelaki kota dan melampiaskan simbol kejantanannya. Aku tunduk. Aku membiarkan malam ini tanpa ada yang merembulan dan membintang. Hitam.
***
Ibu mendekapku erat. Ia merasa kalah dengan cacatnya. Sebab ia telah membiarkan anak perempuan tunggalnya akan mengelana. Tak tentu arah. Tak tentu pula nanti ibu mendapat kabarku.
“Apa ibu khawatir denganku nanti?”
“Iya. Nak! Ibu selalu memohon kepada Tuhan, agar kamu terjaga oleh-Nya. Di kota itu tidak sembarang orang dapat bertahan. Apalagi perempuan sepertimu.”
“Aku akan selalu menjaga diri. Ayah akan menemaniku kan, Bu?”
“Ya. Ayahmu yang mengantarkanmu ke kota sampai kamu dapat kerja dan mendapat tempat tinggal yang layak. Agar tak seorang pun melecehkan kehormatanmu, Nak.”
“Insya Allah. Bu!”
Kami serasa tidak ingin melepas. Tangis kami menderu. Menghitung waktu dengan dekapan. Menggemakan kerinduan paling dalam. Inilah pelepasan, antara yang tak merelakan dan yang merelakan. Seperti kenangan pada pertemuan. Dan ibuku, ia selalu mengajariku kesabaran. Tidak mengeluh pada keadaan. Tidak menjadi bagian dari orang-orang yang seribu kali memberi alasan dan menjauh dari kenyataan.
Dan waktu semakin mendekat. Angin semakin merayap. Meluluhkan ketegaran ibu. Membuatku tak berdaya meresapi segala ucapan. Aku beranjak dari kamar, melewati ruang tamu, melewati bunga-bunga yang setiap hari kusiram, melewati halaman.
“Aku merantau dulu, Bu!” bisikku ke telinga ibu. 
Ia masih menatapku. Ia belum merelakanku pergi. Ia merapatkan peluknya untukku. Dua jam kami mengharu biru.
***
Perjalanan belum sampai ke tujuan. Aku mengenali lelaki kota itu. Lelaki yang buas dan telah membuatku cacat seperti ibu. Benar-benar hina. Dan itu telah terjadi padaku. Dia ayahku, yang seharusnya membuat perjalananku tenang dam nyaman. Akan tetapi ia telah menghancurkan segala yang ingin kuimpikan di kota.
Kota bagi perempuan adalah penghabisan. Kalau orang di sekitar bisa saja menjadi pembunuh masa depan. Ibu mendapat berita pagi tentang perempuan yang diperkosa ayahnya sendiri di busway merah menuju kota bakda hari raya. Ah, Ibu, itu anakmu! Kata tetangga yang sedang menonton televisi di pagi hari dalam hujan yang deras ini.
Malang, 2011



Rabu, 19 Desember 2012

Pemetik Bunga dan Cinta Keabadian (Terbit di Inilah Koran Jabar, 16 Desember 2012)


Pemetik Bunga dan Cinta Keabadian


Semoga hari ini untuk selamanya, aku menjelma edelweiss. Sebab aku bunga yang abadi,  si cantik yang tak lekang. Aku ingin melukis perjalanan antara laut pepasir dan kaki nenek yang terkilir. Aku sedang menggapai mimpi di jalan curam serta senja yang hampir tenggelam bersama pemetik bunga hutan.
Aku masih mencoba bertumbuh, tumbuh di antara sesaknya nafas pemetik bunga dan tangis anaknya yang mulai terdengar sejauh satu kilometer. Barangkali aku mesti membebaskan mereka memetikku selagi aku berbunga. Dan aku bahagia kepada mereka. Sebab aku telah menjadi separuh jiwa mereka. Ya, mungkin untuk hari ini saja atau mungkin untuk selamanya.
Karena hari ini tak ada lagi riang anak-anak datang padaku, juga perempuan-perempuan yang ingin sekadar bercengkrama kepadaku. Atau para bapak yang benar-benar membutuhkanku untuk membayar hutang-hutangnya. Tak seperti dulu. Tak seperti ketika aku benar-benar dipuja dan dijadikan mahkota bagi mereka. Lantaran Gunung Bromo meletuskan harapan.
Setelah Merapi menghancurkan mimpi Mbah Marijan, mungkin mimpiku juga melebur karena letusan-letusan yang mulai aktif dari Gunung Bromo. Aku tersuruk dan tubuhku tertumpuk duka. Saban hari aku mulai memastikan bahwa aku masih bertumbuh, agar pemetik bunga hutan masih datang padaku, memetikku meskipun abu dan debu memercikkan segenap keputusasaan baginya, bagi mimpi pemetik bunga hutan.
Ya, aku menyebutnya, pemetik bunga hutan. Pemetik bunga hutan seringkali memetikku sebagai penyambung hidup dan mempertahankan kelangsungan hidup keluarganya. Begitulah aku diciptakan. Aku sungguh ingin berada dalam lingkaran hidup pemetik bunga hutan.
Mereka tinggal tak jauh dari tempatku dan di tengah tanah pepasir, sengat matahari, jalan curam, tanjakan jalan yang membahayakan tetaplah mereka memberanikan diri untuk memetikku. Kegigihannya seringkali dihantui oleh ketakutan, karena aku telah dilindungi dan pemetik bunga hutan gusar jika nanti mereka tertangkap petugas penjagaku.
Namun, pemetik bunga hutan tak pernah menyerah, karena bagi mereka, akulah yang mampu menjadi jembatan bagi hidup mereka. Tanpa aku, hidup pemetik bunga hutan akan punah juga. Ah, antara aku dan pemetik bunga hutan laiknya rindu yang tak terputus-putusnya. Niscaya aku tak ingin ditinggalkan oleh mereka.
***
Pagi hari, pemetik bunga hutan bergegas melangkahkan kakinya, terdengar suara sepatu yang berat, katup matanya bertanda masih ingin berselimut. Tapi hari ini pemetik bunga hutan harus memetikku, sebab tak ada yang mengepul di tungku. Dapurnya telah tiga hari tak pernah tersedia nasi dan lauk. Kali ini benar-benar terdesak.
Di hati para pemetik bunga hutan juga di ambang kekalutan. Sebab pemetik bunga hutan mendapat informasi bahwa ada larangan untuk mendaki, Gunung Bromo mulai meningkatkan batuk-batuknya. Ah, pemetik bunga hutan menggelengkan kepala, tak percaya.
Pemetik bunga hutan berlari dan berusaha menerobos asap, abu dan debu seperti menghadangnya untuk menghampiriku. Sementara aku kini hanyalah bunga yang kering, tak elok, tak abadi, bangkaiku kian seperti belulang yang lima bulan teronggok di tanah.
Pemetik bunga hutan terus menerobos segerombolan asap tebal, meski kesungguhan pemetik bunga hutan benar-benar bulat. Pantang baginya untuk mengalah, menyerahkan masa hidup keluarganya kepada orang-orang yang tak tahu makna pengorbanan dan ketulusan.
Pemetik bunga hutan hampir sampai di terjalan jalan curam. Jika dipandang ke bawah begitu menakutkan. Sedang aku masih jauh dari tempat pemetik bunga hutan. Ya, aku tinggal dekat lelehan larva pijar dan sekarang masih terus menyala. Pemetik bunga hutan melangkah dengan perasaan yang was-was.
Perasaan kasih pemetik bunga hutan tertuju pada keluarganya, pada senyum kecil yang tiap kali menjadi doa untuk memulai hidup. Perasaan rindu pemetik bunga hutan kepada kebersamaan. Ah, raihlah aku secepatnya agar kau mampu kembali kepada keluargamu dengan ketulusan dan pengorbanan yang sesungguhnya, batinku.
Barangkali inilah pemetik bunga hutan menjalankan tugasnya. Ia merasakan sesak yang teramat berjarak. Asap mulai merasuki tubuhnya. Pemetik bunga hutan memegangi dadanya, memandang dalam-dalam dinding Gunung Bromo seakan memandangiku. Ia ingin dekat padaku, memetikku sampai senja tiba. Lalu memberikan kabar kepada keluarga bahwa ia berhasil dan sebagai hadiah di malam Minggu. Ia segera melangkah lagi dengan sesaknya yang menjalar ke beberapa anggota tubuhnya.
“Tak apa. Kami tak jera. Kami dan edelweiss seumpama sepasang kekasih. Kami tak terpisahkan. Begitu juga Tuhan menciptakan kami tinggal di pegunungan. Kami tak ragu pada pengorbanan, kami mempunyai harapan.” Tegas pemetik bunga hutan saat seorang wisatawan datang untuk penelitian. Pemetik bunga hutan mengatakannya dengan kesungguhan.
“Dengan mencari kerja yang tergolong tidak mendekati maut juga bisa, bukan?” sambung seorang wisatawan ke pemetik bunga hutan. Kali ini pemetik bunga hutan sedang membenarkan letak topinya.
“Kami sadar maut terasa dekat. Kami juga paham jalan untuk menempuh tujuan sangat tak masuk akal. Kami pun ingin katakan pada diri sendiri bahwa yang kami lakukan di ambang kebiasaan dan tak terpikirkan. Tapi kami yakin pada ketulusan dan kepasrahan. Hidup kami sebentar lagi menjadi saksinya.” Tegasnya. Seorang wisatawan tergagap. Ia larut pada bayang pemetik bunga hutan yang tak pernah ia temukan sebelumnya.
Pemetik bunga hutan kembali berjalan. Ia ingin lebih dekat lagi padaku, agar secepatnya mendapat penghasilan. Lalu sampailah pemetik bunga hutan di tempatku, lebih dekat dari abu dan debu yang menusuk-nusuk kakinya sesekali. Ya, sakitnya sirna. Pemetik bunga hutan tak sia-siakan harapan ingin segera kembali kepada keluarganya.
Aku terbujur, kering. Tak ada kelopak yang rembulan di diriku selain wajahku yang lebam dan diliputi bau yang menyesakkan. Hari ini aku benar-benar membuat pemetik bunga hutan kegundahan yang kelu. Karena ia pastikan malam nanti tak ada makan malam, dan esoknya sarapan tinggal bayangan.
***
Aku yang berusaha bertumbuh, menjadi subuh yang penuh tanda, tanda-tanda bahwa aku ingin kekalkan diriku agar pemetik bunga hutan mampu bangkit dan mendekatiku, memetikku sampai terharu. Lalu dengan bahagianya, aku menjelma bunga abadi. Aku menjelma hiasan paling permata di mata pemetik bunga hutan.
Sampai di pertengahan jalan curam, pemetik bunga hutan mendengar teriakan berulang-ulang, ada petugas yang tahu bahwa pemetik bunga hutan sedang berada tak jauh dariku. Pemetik bunga hutan kalut. Ia takut. Kalau tertangkap dan keluarganya belum sempat mencium bau harapan ingin makan. Sementara asap kian tebal di dadanya, sesaknya berangsur menusuk dan memburuk. Ada nafasnya yang nyaris jatuh seperti batu-batu kecil dari ketinggian gunung.
Pemetik bunga hutan mencoba untuk mendekatiku, ia tak hiraukan gema larangan dari petugas, ia hapuskan segenap kalutnya sampai ia tahu bahwa aku sedang menunggunya, agar aku bersedia dipetiknya sekali lagi, walaupun asap tak lelah menusuknya, menjalar ke hatinya. Pemetik bunga hutan sampai terhenti langkahnya sesekali.
“Sampaikan kepada keluarga, kami telah mencoba.” Pemetik bunga hutan pun berusaha sekuat tenaga. Apabila tak sampai ia tahu bahwa kematian lebih mengharukan dari lindu.
***
Petugas menemukan tubuh pemetik bunga hutan terbujur kaku sambil menggenggamku. Asap mengalahkan pengorbanan dan ketulusannya. Lalu aku mengikutinya sampai ke gerbang rumah keluarga. Sebab tangan pemetik bunga hutan terus tak lepaskanku.
Mungkin untuk menggapai mimpi harus mengorbankan mimpi itu sendiri. Pada setiap mimpinya harus mencoba melewati jalan curam, dan setidaknya edelweiss dan pemetik bunga hutan memulai perjalanan menuju keabadian.

Probolinggo, 2012

Selasa, 11 Desember 2012

Rembulan Pucat di Atas Bale (Terbit di Majalah Sastra Horison, Edisi Oktober 2012)


Rembulan Pucat di Atas Bale 

Langit kota Praya warna abu-abu dibayangi awan kelabu. Di Bale, Inak bertanya tentang merariq dengan kondisi hampir basi. Lazimnya Baiq yang cukup usia dan telah tunai waktunya menjadi perempuan sempurna. Inak memberi tahu bahwa sudah tunai waktunya membuka hati bagi Lalu untuk meminangku dan mendapat separuh jiwa yang baru. Namun ada ketakutan paling mendalam di hati Inak kalau aku tak pakai ali-ali di jemari. Inak selalu bermuka hitam layaknya malam gelap gulita bila melihatku sendiri bakda maghrib. Karena orang-orang menyebutku seperti Dare Bebalu. Inak pun malu begitu. Aih!
Aku tak lekas merariq, aku tak segera mencintai Lalu, aku tak menyegerakan diriku menjadi bidadari, aku tak sampai membuka pintu hatiku, aku hanya terpaku pada saat ada Lalu datang dengan pisuka sepantasnya yang sudah disetujui Inak. Tetapi Inak tiba-tiba menaikkan pisukanya lebih tinggi. Larilah Lalu keluar Baleku karena tak sanggup. Tiap bulan Inak akan kedatangan Lalu untuk meminangku, Lalu yang menghampiriku untuk cinta, Lalu yang menandaiku untuk bidadarinya, Lalu yang mengharapnkanku merariq tapi Inak selalu membuat kesepakatan pisuka lebih tinggi. Inak seperti menaikkan tarif mahal kepadaku, maka setiap Lalu menuju, pastilah tak ada yang mau, siapapun itu. Sesiapa Lalu datang, Inak panjatkan pisuka lebih dari sepantasnya. Kasihanilah aku, di jendela berduduk dan tak menjumpai waktu yang baru.
***
Di jendela hampir senja, aku menunggumu, San! Aku tenang menunggumu pulang sebab kau ingin merariq aku sesudah kuliah di pulau Jawa. San, kaulah senja yang melabuhkan kehangatan di tubuhku. Kaulah pikiran yang menghalangiku untuk berjalan setiap aku mengingatmu. Wahai kekasihku, San, Inak memaksaku punya Lalu! Paksaan inilah yang sering bersorak-sorak di kedalaman perihku dan aku selalu duduk di dekat jendela hanya untuk menantimu, San!
Inak tak pernah setuju dengan Sanjuri. Lelaki yang kucintai. Inak selalu bilang, kalau ingin merariq dengan anakku, beri aku pisuka dengan harga tinggi. Kamu siap berapa? Inak tak mau satu juta, dua juta. Inak mau seratus juta. Lelaki seperti Sanjuri mana pernah memiliki pisuka sebanyak itu, sebab untuk belajar saja membeli buku harus pinjam ke teman. Keperihan milik Sanjuri dan aku.
Spontan mata Sanjuri melotot dan gagap. Merasakan syarat yang sangat berat, seperti memikul setumpuk batu besar di punggungnya. Sanjuri kembali melangkah pulang. Aku membayangkan hatimu berdegup tak karuan, San! Betapa Inak akan marah, kalau aku sebut Inak mata duitan yang egois dengan kehendaknya dan selalu memaksaku untuk menjadi perempuan yang jual mahal. Aku yang disangkanya tak pernah merespon tiap ada Lalu kaya untuk merariq aku sedangkan Inak begitu, maunya aku merariq dengan pisuka setumpuk peti harta karun.
Inaklah yang kemudian mewakili jawabanku. Pula yang membuat keputusan pisuka setinggi-tingginya, semahal-mahalnya. Dan menjadi separuh jiwa tentang jawaban hatiku. Ah, Inak! Akan datang beberapa Lalu sampai kau setuju melepasku? Atau aku hanya terkurung di sangkar ini dan tak pernah Inak perhatikan betapa sedihnya dan meleburnya duka yang mendalam ini.
Kau tahu sifat Inak kan, San? Apakah kau siap menghadapi kerasnya kepala dan gigihnya serta egoisnya Inak karena tak ingin melepasku dengan pisuka yang sepantasnya? Atau kau akan menyerah begitu saja, San? Aku tahu, kau pasti sedang memikirkan caranya, bukan? San, segeralah datang. Aku menungguimu, aku duduk di dekat jendela, aku melihat bayanganmu berlari-lari. Cintamu yang berseri-seri.  
***
Aku pakai antep. Cuaca panas. Matahari ngengat. Di Bale, tak jauh beda dengan gurun pasir, seperti hamparan yang di atasnya matahari bulat. Teriakan Inak menolak angka pisuka yang terlalu kecil dari lelaki ladang yang datang ingin meminangku semakin membakar tubuhku. Arrggghhh...
Empat hari berikutnya, Inak menghampiriku.
“Sudah ada yang midang kamu!”
“Siapa dia, Inak?”
“Namanya Lalu Baihaqi.”
“Aku tak mengenali namanya.”
“Sudah. Ikut saja apa kata Inak. Perempuan Baiq menuruti kata-kata Inak.”
Inak benar-benar melepaskan aku ke tangan yang tak kutahu nasabnya, sifat keluarganya. Apakah hal ini pertanda kalau kau tak bisa memilikiku, San? Cepatlah ke Baleku. Aku menungguimu, aku duduk di dekat jendela, aku melihat bayanganmu berlari-lari. Cintamu yang berseri-seri.  
Oh Tuhan, malam ini aku di Bale Lalu Baihaqi. Kemarin ia merariq aku sebab Inak setuju dengan pisuka yang sebanyak peti harta karun meskipun aku tak suka, kutak mencintainya, San. Inak menyuruhku bilang iya. Aku ingin mengabarkanmu lewat surat dan getir yang berkelebat, ingin kulari bersamamu. Seperti janji kita dulu. Cintamu bagai rembulan waktu itu.
 “Iya. Aku akan midang kamu.” Katamu. Aku duduk di sebelahmu dan tanganmu melingkar ke leherku. O, surga. O, cinta.
“Apa kau tinggal lama di pulau Jawa?” tanyaku seperti angin yang menyampaikannya padamu. Rambutku terburai.
“Tak mungkin lama.”
“Cepat datang, ya? Aku hanya ingin kamu menjadi suamiku.”
Kami lintasi malam. Kami duduk dengan membaca masa silam. Akan tetapi kami terburu-buru mendapati Inak bergegas dari arah barat menyanggul sapu.
“Inak pasti marah.” Celetukku.
“Kenapa?” Matamu melirikku.
“Di kejauhan, Inak membawa sapu.”
“Aku harus pamit dulu pada Inak.”
“Jangan! Hindarilah Inak.”
“Biarlah.”
“Cepat pergi atau kau digebuk Inak yang menggenggam sapu besar.”
Plaakk!!! Sapu panjang mendarat ke tubuh Sanjuri. Sanjuri bertubi-tubi mendapat kibasan sapu yang didaratkan Inak.
“Anakku tak murahan. Bukan anak ayam!” teriak Inak ke Hasan.
“Tidak Inak. Aku mencintai anak Inak. Aku ingin menikah dengannya.”
“Sudah. Dia tak lagi mosot,” Inak menyeretku dan mengusir Sanjuri. “Pergi. Jangan kau balik.”
“Inak, aku berusaha mendapat pisuka sesuai keinginan Inak, demi cintaku.”
“Sediakan dulu pisukamu sesuai dengan keinginan Inak.”
Aku naiki malam buta dan melihat punggungmu berdarah merah. Duh, mengapa Inak tak pernah yakin dengan cintamu, San?
***
Selabar telah diperdengarkan ke seluruh penduduk. Kemudian, utusan Lalu Baihaqi melakukan mesejati, beberapa waktu kemudian, Lalu Baihaqi beserta keluarga mbait wali. Saat itu, Inak tertawa lepas. Aku tak pernah mendapati Inak tertawa selepas itu. Tampak giginya berbaris rapi. Entah, apa yang membuatnya seperti tawa mulut goa. Inak tak cerita apa-apa padaku. Sedangkan aku harus mengikuti kemauannya yang egois itu.
Saking bahagianya Inak menyiapkan acara paling mewah dan meriah sekali waktu sorong serah. Pesta paling megah. Inak mengundang seluruh warga untuk hadir menjadi saksi perkawinanku. Duhai San, bilakah kau datang?    
Aku menyadari hal itu. Seperti yang pernah dibicarakan ketika Sanjuri inginkan aku. Pisuka yang Inak mau tak pernah suka sama suka. Inak mau lebih dari sekadar suka. Pisuka yang harus dibayar dengan angka lebih besar. Sambil bernafsu Inak ingin di atas rata-rata.
Inak benar-benar bahagia di atas penderitaanku. Aku mengikuti rangkaian acaranya dengan tangis dalam hati. Mataku sembab. Semoga kau tak saksikan acara terkutuk ini, San? Aku terlanjur dimiliki tanpa aku yang memiliki. Aku harus meraung-raung entah menuju kepada sesiapa, tak tahu aku lontarkan ke lelaki mana? Sesiapa yang ingin mendengarku. Inak saja lupa padaku, yang Inak mau di sakunya tebal pisukanya. Segeralah kesini, Inak!  
Gendang belek mengiringi langkah nyondolan. Lalu Baihaqi bermata buas itu ingin menguasai tubuhku terlebih dahulu. Lalu Baihaqi merajai tubuhku. “Kau telah kumiliki, jadilah pelayan yang baik, malam ini aku ingin berpesta. Malam ini aku pantas menjadi pangeranmu, sayang!” kubilang dalam hati: asu, beraninya kau kalahkan aku dengan pisuka, sesungguhnya aku berani begini karena Inak, satu-satunya alasan yang memaksakan kehendakku adalah Inak. Semalam ia menghalangiku pergi ke Balemu, San! Pada malam hari itu, ia tunai memecahkan gendangku dan telah menutup gerbang imajiku bersamamu.
Yang mengerikan pada malam itu, seusai Lalu memecah gendangku dan mewarnai langit malamku dengan ganasnya. Tiba-tiba Inak dan Lalu Baihaqi sengaja membuat perjanjian di ruang tamu. Mereka tak memandang dosa apalagi pisuka sudah di sakunya. Kurang benarkah aku dilahirkan? Atau cintaku yang pantas dihempaskan. Biadab, ternyata Inak dan Lalu Baihaqi memadu cinta sebagai sepasang kekasih. Inak menjadi ular bersama Lalu Baihaqi. Mereka saling berkalung nafsu. Inikah bagian dari yang direncanakan Inak? Inak bercakap jelas di situ, kalau aku dijual ke Lalu Baihaqi dengan pisuka yang pantas dan tak seperti yang diguncingkan Inak sejak dulu. Inak bahagia karena telah menjual tubuhku padanya. Inak dan Lalu Baihaqi membuat noktah hitam untuk keturunan bangsawan. Anggap saja aku barang murahan, bukan perempuan yang dulu disebut-sebut rembulan.
***
Langit kota Praya warna abu-abu dibayangi awan kelabu. Dengan gerah dan wajah yang amarah aku diam-diam meninggalkan Bale. Ingin sekali mencari cintamu yang berlari-lari. Ingin mengabarkanmu bahwa aku bukan perempuan seperti katamu, Rembulan! Yang sesungguhnya kutakutkan tiba. Yang ingin kuucapkan padamu mungkin sekadar pahit yang belum kau ketahui. Aku pergi ke Pesta Bau Nyale untuk menemuimu. Nampaknya udara menjadi dingin dan malam terus mengikuti sedihku yang disaksikan oleh perih hatiku. Kalau hari ini hujan, aku ingin mendekapmu erat-erat, San!
“Setidaknya kita telah berusaha.” Katamu. Setelah kuceritakan hal paling rumit ini.
“Iya, usaha yang sia-sia! Aku tak percaya dengan Inak saat itu juga.”
“Sekurang-kurangnya, kita masih punya masa depan.” Sanggahmu membuatku berani mempertaruhkan hidup. Aku berusaha sekuat tenaga bertekad keluar dari bayang-bayang Inak. Sampai aku berdiri di hadapanmu, kau tetap saja mencintaiku, San! Salahkah aku bercerita tentang bau tubuhku yang rusak ini, atau Inak yang selalu mengumbar wasiat kekosongan.
Meski sulit kucerna dan kusampaikan padamu tentang janin yang singgah di perutku. Aku tak ingin menunda untuk mengatakannya padamu. Walau nantinya, kau lepaskan aku bersama ombak yang mengarak seperti Putri Mandalike. Paling tidak kau sandarkan telingamu ke sini, ke perutku yang membuncit lima senti. (*)

Malang, 20 Maret 2011
 Catatan:
Merariq              : Perkawinan adat Sasak, Lombok, NTB. Diwujudkan dengan membawa si calon pengantin perempuan dengan cara ”mencuri” diam-diam, sembunyi-sembunyi atau dipalingkan dari orang tuanya. Benar-benar tanpa sepengetahuan orang tua
Amaq                    : Ayah
Inak                       : Ibu
Baiq                       : Gelar untuk bangsawan sasak perempuan dan Lalu untuk bangsawan sasak laki-laki
Dare Bebalu           : Gadis janda
Pisuka                    : Uang jaminan
Antep                    : Kipas yang dioperasikan dengan tangan
Midang                  : Bertamu ke rumah seorang gadis, untuk dikencani
Mosot                    : Membujang, tidak menikah
Selabar                  : Pihak laki-laki harus melaporkan kejadian kawin lari itu kepada kepala dusun tempat pengantin perempuan tersebut tinggal
Mesejati                 : Utusan laki-laki memberitahukan langsung kepada keluarga pihak perempuan tentang kebenaran terjadinya perkawinan itu
Mbait wali             : Permintaan keluarga laki-laki supaya wali dari pihak perempuan menikahkan anaknya dengan cara Islam
Sorong serah         : Acara pesta perkawinan atau resepsi pernikahan pada waktu orang tua si gadis akan kedatangan keluarga besar mempelai laki-laki, yang semua biayanya menjadi tanggung-jawab pihak laki-laki
Gendang belek      : Merupakan tari tradisional Lombok, karena alat musik utama yang dipakai sebagai pengiring dalam tarian ini terdiri atas dua buah gendang (belek) yang melebihi ukuran gendang biasa, sekaligus sebagai properti tari.
Nyondolan            : Mengantarkan kembali pihak perempuan pada pihak keluarganya.
Pesta Bau Nyale    : Pesta menangkap nyale (sejenis cacing laut berwarna hijau keemas-emasan) dan diyakini oleh warga Lombok sebagai jelmaan dari Putri Mandalike yang menceburkan dirinya ke laut saat diperebutkan oleh beberapa pemuda.
Terune dan dedare   : Pemuda dan pemudi. 

Jumat, 07 Desember 2012

Rembulan di Surau (Terbit di Kedaulatan Rakyat, 4 November 2012)

cerpen "Rembulan di Surau" dalam proses menulisnya banyak mendapatkan cobaan, dimulai dari judul sampai tamat penceritaannya. Saya sangat yakin cerpen ini memiliki kekuatan dan mampu menembus media massa. Keyakinan dan optimisme saya akhirnya menuai keberhasilan. RdS (Rembulan di Surau) mampu menarik minat redaktur Kedaulatan Rakyat di Jogja. Saking sumringahnya saya ingin berbagi kepada teman-teman. Berikut cerpennya, saya berharap, berilah komentar untuk cerpen RdS, agar saya tahu sejauh mana Anda membaca dan akrab untuk cerita ini:


Rembulan di Surau 


Seorang lelaki berusia enam puluh tahun sering kujumpai ketika subuh dengan menggotong kesepiannya sambil mengaji di surau. Lihatlah, ia ditemani kesepian. Aku takut jika aku mendekat apalagi merapat dan bertanya: mengapa mesti mengaji di surau?
Tidak bisa aku katakan kalau lelaki itu melampiaskan kesepiannya yang mendalam dan menyendiri di surau. Sedangkan orang-orang bergegas kembali ke rumah mereka, mempersiapkan diri untuk mencari nafkah. Aku hampir berangkat menuju rumah.
Lelaki tersebut menoleh pelan-pelan. Seperti ada kalimat yang ingin disampaikan. Aku berhenti. Nampaknya lelaki itu ingin berdiri. Aku segera datangi dia. Ketika ia berdiri tiba-tiba bibirnya tersenyum ke arahku.
***
Diam-diam ibuku menaruh surat di meja. Setelah aku baca seperti ada tanda yang pernah kuingat sebelumnya. Ucapan terima kasih tapi tak bernama. Ibuku bilang kalau surat itu dari Pak Pos. Belum sempat kuterka lalu wajah lelaki tua di surau terbayang-bayang. Pengirim surat ini apa benar kakek itu? Isi surat yang singkat: saya ucapkan terima kasih padamu, Nak!
Larut malam ibuku mendatangiku lagi. Ibu duduk di sebelahku sambil nonton televisi. “Tentang kakekmu, Nak!” ibuku berbicara seakan mengetuk kenangan yang belum pernah kuraba.
“Ada apa dengan kakek, Bu?” kuhadapkan wajahku. Bola mata ibu berlinang. “kakekmu adalah lentera bagi keluarga ini,” sesenggukan ibu malam ini semakin rapat, menyorongku larut ke dalam kenangan. “keluarga kita teramat sangat mencintainya, kakek mengajari kita untuk saling menolong dan tak sombong.”
Jendela masih terbuka. Hujan tiba-tiba datang. Begitu saja kupeluk ibu. “Kakek luar biasa ya, Bu! Kenapa Amir tak pernah dipertemukan?” keluhku membuat ibu mengusap airmatanya.
***
Dengan langkah mantab kejejaki malam menuju surau. Ingin kupastikan tidak ada doa yang tergadaikan. Dan hidupku mesti dipanjatkan dengan lantunan ayat paling menggetarkan. Aku mencintai malamku dengan sederhana. Sholat dua rakaat, mengaji dengan sarung terlipat dan kupakai kopiah agak miring sesaat.
Sekarang ini aku membetulkan mikrofon. Kata tetanggaku suara azan maghrib jelek sekali  di desa ini mirip gelas pecah.
“Bukankah muadzinnya cakep, kok suaranya cempreng sih!” ketus ibu muda.
“Iya, seperti meminum bir dan memaksa diri menjadi yang paling suci,” tambah temannya, perempuan tua.
“Dia bukan Amir. Tapi ada orang lain yang masuk ke surau.” Lelaki tua menjawab pelan.
Karena itulah aku didatangi para tetangga dengan segelintir keluh pada suara azan. Padahal aku tak bertugas menjadi muadzin di waktu maghrib. Mereka memaki dan mencampuri kata-kata dengan jorok sekali. Aih, kalimat yang sesak di dada. Ampunilah teriakan mereka, barangkali hidup tak sekadar baik-baik saja.
“Baiklah, kucari muadzin itu. Semoga tak ada keributan lagi. Atas nama takmir surau, aku mohon kepada seluruh warga di desa ini diharap tenang.” dan mereka lekas pergi meninggalkan cacian yang sangat dalam.
“Lebih bijak begitu, Nak!” suara dari kejauhan, lelaki tua yang sering kulihat di surau. “padahal aku yakin kau tak sebengal itu!”
“Kakek yakin?” tanggapku di hadapannya.
“Bila aku tak yakin, mengapa mesti kubela atas namamu. Seruan Tuhan sering gagal jika bukan kamu yang berkumandang.” Lelaki tua itu benar-benar jujur. Aku menghela nafas dan ingin mengucapkan rasa terima kasihku.
Sekarang corong azan di desa ini suaranya merdu. Kumandang azan kembali renyah didengar. Aku dapat mengembalikan kepercayaan tetangga atas pilihan mereka menjadikanku takmir surau, muda, dan masih belajar berhitung. Lelaki tua datang lebih awal dan mengucapkan salam. Kubalas dengan senyuman.
Duhai malam yang enggan kupasrahkan pergi. Malam yang tak pernah kuniatkan menjadi seriang ini. Setelah kutahu bahwa lelaki itu telah menyelamatkanku dari caci maki yang keji. Sesungguhnya kebaikan pohon-pohon yang digoyangkan angin memberi suasana sejuk di malamku.
Terjadi kerinduan kepada Kakek yang diceritakan ibu kemarin. Andai saja Kakek di sini, aku yakin usianya tak jauh beda dengan lelaki tua itu, berperilaku santun dan mendoakan cucunya. Sembari kuterbayang, ada pergulatan yang sampai kini belum terjawab tentang makam kakekku yang tak pernah ditunjukkan ibu kepadaku. Meski ayah terlanjur pergi meninggalkannya, mestinya kupunyai sosok lelaki yang pantas kujadikan figur bagi masa depanku.
“Sudahlah. Kamu tak perlu mengingat-ngingat masa silam,” tegur ibu. “kakekmu sudah tiada. Kamu tak perlu mengeruk kembali kenangan itu. Lakukan pekerjaanmu sebagaimana inginnya kakek kepadamu di waktu kecil.”
Begitulah ibu seketika, wajahnya memerah. Ibu merasakan benci dan sayang kepada kakek. Benci karena sesuatu, dan sayang karena sesuatu juga. Dilematis sekali ibu. Dengan alasan yang tak masuk akal bagiku. Lantas lelaki tua itu, mengapa sering melihatku dan percaya bahwa aku adalah malaikat baginya? Apakah aku adalah cucunya yang tak pernah ditemuinya sejak kecil?
***
Tuhan, jika kasih sayang dimulai dari menghormati mata kaki ibu, maka cinta akan kumulai dari menciuminya untuk menemui lelaki itu. Apabila malam telah larut, lelaki tua itu tetap tak pulang ke rumahnya kecuali di surau menyahuti suara kodok dengan ayat Tuhan. Tapi ibuku menyelimuti diri di kasur. Nyenyak sekalipun mendengar jeritan jangkrik.
“Kakek?” ucapku dari belakang. Lelaki tua itu menoleh. Suasana tegang dan tak kudapati rasa malu darinya. “kakekku adalah kamu, bapak tua!” kuyakini sambil mendekatinya pelan-pelan.
Tak ada salahnya aku menganggap malam ini sebagai kesucian yang telah terbuka hijabnya setelah bertahun-tahun. Tak mungkin aku gelisahi lagi sosok kakek yang diceritakan ibu. Kuakui diri ini sebagai kebodohan karena tak mencintainya sejak awal pertemuan.
“Kamu jadikan aku sebagai kakekmu, Nak!” kata lelaki tua sembari menaruh mushaf di rak surau. “iya, kaulah kakekku, penyayang untuk cucumu, dan mengajarkan kami untuk bertahan meskipun tajamnya kehidupan, kau telah mengajarkan kami ketegaran. Kembalilah, kakekku!” aku memohon kepadanya.
“Aku kira, tak ada kesedihan yang dibuat-buat seperti memasak roti tanpa resep yang tidak jelas,” ujar lelaki tua kepadaku. “aku bukan kakekmu, Amir!”
“Kenapa kamu membelaku saat mereka menghardikku? Kenapa kamu menjadi bagian dari kebahagiaanku?” tanyaku dengan tangis yang tak usai.
“Mestinya ibumu menceritakan, bahwa aku adalah saudara kembar dari kakekmu.”
“Ya, Tuhan! Inikah keajaiban malam.” Aku memeluk lelaki tua itu erat-erat. Selama lima belas tahun aku belum pernah merasakan kasih sayang lelaki di dalam keluarga.
Ibu, maukah kau bangun sebentar, mengajakku berkelana mencari jejak kakek yang menjelma rembulan. Di hadapanku, lelaki tua itu menghapus airmataku dan mengajakku ke surau.
Malang, Mei 2012